Oleh: wr.agus | 15 Januari 2011

Mutiara 1

Nabi Muhammad SAW bersabda: “I”mal lidunyaka kaannaka taisyu abadan wa I’mal liakhirotika kaannaka tamutu ghodan”

(Berusahalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya… dan berusahalah kamu untuk akhiratmu seolah-olah esok kamu akan mati.)

Allah swt berfirman dalam Al-Quran Surat Ath-Tholaq:  “Wa Man Yattaqillaha, Yaj’al Lahuu Makhrojan, wa yarzuqhu Min Khaitsu Laa Yahtasib”.

(Barangsiapa bertaqwa kepada Allah SWT, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar <dari permasalahan yang dihadapinya>, dan akan memberikan rizqi dari jalan yang tak disangka-sangka.

From: –> M. Al-Istiqomah: 14-01-2011

Oleh: wr.agus | 4 Mei 2010

Badai Matahari

Terjadi di Quebec Amerika Utara, tahun 1989

Terjadi tahun 2009

Oleh: wr.agus | 2 Mei 2010

“HARDIKNAS 2010

“Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasioanal”

Tahun 2010

Semoga dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang.

Berikut profil Bapak Pendidikan Indonesia:

Nama

Ki Hadjar Dewantara

Gender

Laki-laki

Riwayat Hidup

Pendidikan :
- Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda)
- STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tidak tamat
- Europeesche Akte, Belanda

Riwayat Karir

- Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara
- Pendiri Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa), 3 Juli 1922
- Menteri Pengajaran Kabinet Presidensial, 19 Agustus 1945 – 14 November 1945
Organisasi :
- Boedi Oetomo, 1908
- Pendiri Indische Partij (partai politik pertama beraliran nasionalisme Indonesia), 25 Desember 1912
Penghargaan :
- Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional
- Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957
- Pahlawan Pergerakan Nasional (Surat Keputusan Presiden No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)

Ki Hadjar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1889 – 26 April 1959) adalah seorang tokoh pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda.
Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hajar mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Tulisan Ki Hajar yang terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli : Als ik eens Nederlander was) yang pernah dimuat dalam surat kabar de Expres milik Douwes Dekker tahun 1913. Artikel tersebut ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk mengumpulkan sumbangan dari Indonesia.
Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Tanggal lahirnya, (2 Mei) dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia dan menjadi Bapak Pendidikan Indonesia. Nama Ki Hajar juga diabadikan sebagai nama kapal perang Indonesia “KRI Ki Hajar Dewantara”. Selain itu, perguruan Taman Siswa yang ia dirikan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Semboyan dalam pendidikan yang beliau pakai adalah “tut wuri handayani”. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita.


Dikutip dari  http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/ministers/popup_biodata_pejabat.asp?id=28

Oleh: wr.agus | 2 Mei 2010

PTK (“INTERAKTIF” DOWNLOAD)

Penelitian Tindakan Kelas

PENGOPTIMALAN PENERAPAN METODE INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATERI PELAJARAN IPA”

dapat juga di download di link berikut:

http://www.scribd.com/doc/30749778/PTK-Interaktif

semoga bermanfaat.

Oleh: wr.agus | 2 Mei 2010

PTK (“INTERAKTIF” 5)

BAB    V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bab IV, dengan mengacu pada rumusan masalah yang dikemukakan pada  bab I, peneliti menyimpulkan:

  1. Pengoptimalan penerapan metode interaktif mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran IPA. Adanya peningkatan pemahaman terhadap materi IPA tercermin pada peningkatan nilai hasil evaluasi belajar siswa, baik pada pelaksanaan PTK siklus I maupun pada siklus II.
  2. Antusiasme siswa dalam mengikoti proses pembelajaran IPA mengalami peningkatan dengan diterapkannya metode interaktif pada proses pembelajaran. Kesimpulan ini didasarkan dari data hasil observasi rekan sejawat yang menjadi observer pada pelaksanaan pembelajaran, baikpada siklus I maupun pada siklus II. Hal ini juga berkorelasi dengan meningkatnya pencapaian hasil belajar siswa.

B. Saran

Mengacu pada kesimpulan di atas, maka metode interaktif dapat dijadikan sebagai metode alternative untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa.

  1. Kepada rekan sejawat (guru) diharapkan mampu mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran dengan menitikberatkan pada partisipasi aktif siswa melalui pembelajaran yang interaktif.
  2. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan kiranya Bapak Kepala Sekolah dan Pengawas TK/SD perlu memberikan bimbingan secara berkala kepada guru, terutama untuk meningkatkan pengelolaan pembelajaran. Perju juga kiranya untuk mensosialisasikan keberhasilan penerapan metode interaktif di SDN Cemarajaya II kepada rekan guru di wilayah Cibuaya, sebagai perbandingan dan sharing pengetahuan dalam membimbing siswa.
  3. Kepada peneliti berikutnya yang akan menerapkan metode yang sama, diharapkan hasil Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dan perbandingan. Termasuk memberikan saran konstrujtif dan mengoreksi kelemahan yang terdapat pada laporan PTK ini, untuk kemajuan pendidikan di Cibuaya.

***** oOo *****

DAFTAR PUSTAKA

De Porter Bobbi. et.all. (2005). Quantum Learning, Bandung: PT Mizan Pustaka.

De Porter Bobbi. et.all. (2004). Quantum Teaching, Bandung: PT Mizan Pustaka.

Hatimah, I. (2000). Strategi dan Metode Pembelajaran, Bandung: CV. Andira.

Kasbolah, K. (1999). Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud.

Rohani, A. (2004). Pengelolaan Pengajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Rukmini, S. et.all. (1997). Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UPP IKIP Yogyakarta.

Ruskandi, K. (2001). Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS melalui Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning, Tesis: Bandung tidak diterbitkan.

Sudrajat, A. (2008) Konsep PAKEM, (Online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/konsep-pakem)

Surya, M. (2003). Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Yayasan Bhakti Winaya.

Warnyoto, (2010). Konsep PAKEM, (Online), (http://war2nyahoo.blogspot.com/2010/02/konsep-pakem-1.html)

Wuryanto, A. (2009). Pakem. (Online), (http://salam02.wordpress.com/2009/02/11/pakem, http://salam02.wordpress.com/2009/02/11/pakem-2http://salam02.wordpress.com/2009/02/22/pakem-3)

http://www.total.or.id/info.php?kk=interactive

Oleh: wr.agus | 2 Mei 2010

PTK (“INTERAKTIF” 4)

BAB    III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilaksankan adala Penelitian Tindakan Kelas. Adapun yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh seorang guru dalam kawasan kelas dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.

Pengertian ini merujuk pada  pendapat Ebbut (Kasihani Kasbolah, 1999:14) ang menyatakan: ‘Penelitian Tindakan merupakan study yang sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-praktik dalam pendidikan dengan melakukan tndakan praktis serta refleksi dari tindakan tersebut.

B. Prosedur Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan merujuk pad model spiral Kemmis dan Mc. Taggart (1988), dengan rencana tindakan 2 (dua) siklus, yang setiap siklusnya terdiri dari:

1.    Perencnaan

2.    Pelaksanaan Tindakan

3.    Observasi

4.    Refleksi

C. Lokasi dan Subyek Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di SDN Cemarajaya II, Cibuaya, Kabupaten Karawang pada Tahun Pelajaran 2009/2010. Adapun subyek penelitian adalah siswa kelas VI.

D. Teknik Pengumpulan Data

Berdasarkan pada tujuan penelitian, maka pengumpulan data dilakukan melalui test evaluasi hasil belajar dan lembar observasi.

E. Teknik Analisa Data

Analisa data hasil penelitian akan dilakukan dengan merujuk pada pengelolaan data menurut Hopkin (Kanda Ruskandi, 2001:55) melalui tahapan berikut:

  1. Pengumpulan data,
  2. Validasi data,
  3. Interpretasi data

***** oOo *****

BAB    IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Studi Pendahuluan

1. Kondisi Siswa Kelas VI

Siswa kelas VI SDN Cemarajaya II, Cibuaya berjumlah 31 (tiga puluh satu) orang, terdiri dari 22 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Dari keseluruhan siswa kelas VI, 40% berasal dari keluarga tidak mampu dan 60% berasal dari keluarga ekonomi sedang serta rata-rata tingkat kehadiran siswa sebesar 98% perbulan.

Rata-rata nilai ulangan harian pada mata pelajaran IPA yang telah diperoleh siswa menunjukkan bahwa dari keseluruhan siswa kelas VI yang berjumlah 31 orang, 14 siswa (45%) masih mendapat nilai di bawah 6,  9 siswa (29%) mendapat nilai antara 6 s.d. 7 dan hanya 8 siswa (26%) yang mendapat nilai di atas 7

2. Kondisi Guru

Guru kelas VI dalam hal ini peneliti, berlatar pendidikan S-1 PGSD tahun 2005. Peneliti mulai tugas di SDN Cemarajaya pada awal tahun pelajaran 2008/2009. Sejak memulai tugas di SDN Cemarajaya II, peneliti mendapat tugas sebagai guru kelas VI sampai penelitian ini dilaksanakan.

3. Kondisi Sumber Belajar

Dalam melaksanakan proses pembelajaran IPA, peneliti tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh sumber belajar. Buku sumber yang digunakan adalah Buku IPA Bse Depdiknas kelas VI dengan rasio 1 buku 1 orang. Selain buku paket, tersedia pula alat peraga IPA, diantaranya KIT IPA, minuatur tata surya, poster organ tubuh.

4. Kondisi Fasilitas Sekolah

Sejak tahun pelajaran 2008/2009 SDN Cemarajaya, berubah status menjadi SDN-SMPN Satu Atap (SATAP), dengan jumlah ruang belajar sebanyak 5 lokal (SD) dan 3 lokal (SMP). Selain itu terdapat pula kantor guru, fasilitas ibadah (musholla), Aula, Perpustakaan, MCK, dan Gudang, beserta alat peraga SD-SMP.

B. Penerapan Metode Interaktif dalam Proses Pembelajaran IPA

1. Siklus I

Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 23 Februari s.d. 3 Maret 2010 dengan tahapan sebagai berikut:

1.1          Tahap perencanaan

Tahap perencanaan pada siklus I diawali dengan pengumpulan data awal berupa rata-rata nilai ulangan harian yang telah diperoleh siswa yang kemudian diolah dan dianalisa, dengan menentukan nilai rata-rata kelas, median serta pencapaian kelulusan dengan acuan KKM yang telah ditetapkan di awal semester (KKM=68).

Adapun data yang berhasil diperoleh sebagai berikut:

TABEL 4.1

RATA-RATA NILAI ULANGAN IPA

SISWA KELAS VI SDN CEMARAJAYA

SEMESTER II, TAHUN PELAJARAN 2009/2010

KKM = 66

NO

NAMA SISWA

RATA-RATA NILAI

LULUS

TIDAK

ULANGAN HARIAN SISWA

LULUS

1

ACHMAD RIANDI BAHRI 35
2 INTAN SUSENO 60
3 PINLIAH 35
4 SUNANTO 40
5 CUWANDI 45
6 FITRI KLODIA 38
7 AHMAD MAULANA 30
8 KRISDAYANTI 56
9 ADE SURYANA 67
10 ANITA AGUSTIANI 35
11 ENDRA MAULANA 75
12 EKA MULYANA 60
13 INDAH HANDAYANI 75
14 MUHAMAD MARTA 61
15 MUHAMMAD SAMSUDIN 65
16 MUHAMAD NASIR 74
17 MUHAMMAD ARDIANTO DINATA 70
18 NURJAMAN 58
19 NURLELAH 54
20 RUDI BAHTIAR 40
21 RUDI SANTOSO 76
22 RENDI JULIANTO 78
23 SUMA 55
24 SAIPUL ANWAR 62
25 SANDITA 67
26 YUYUNG DAMAYANTI 30
27 YANA 63
28 ABDUL ROHMAN 46
29 SARJANA 70
30 SRI MULYANI 78
31 WANDI 62
JUMLAH NILAI 1760
RATA-RATA NILAI 56.77
MEDIAN 60
PROSENTASE LULUS 29.03
PROSENTASE  TIDAK LULUS 70.97

Dari data di atas terlihat bahwa dari keseluruhan siswa kelas VI yang berjumlah 31 orang, 14 siswa (45%) masih mendapat nilai di bawah 6,  9 siswa (29%) mendapat nilai antara 6 s.d. 7 dan hanya 8 siswa (26%) yang mendapat nilai di atas 7, dengan median nilai 60. Diketahui pula bahwa siswa yang lulus melampaui KKM hanya 29,03% sedangkan yang tidak lulus mencapai 70,97%.

Setelah melakukan pengolahan dan analisa data awal, langkah selanjutnya adalah membuat scenario pembelajaran, sebagai berikut:

1. Membagi siswa menjadi 6 kelompok dengan persebaran prestasi  siswa merata pada setiap kelompok, serta pembagian jumlah anggota kelompok sebagai berikut:

Tabel 4.2

Pembagian Kelompok Siklus I

KELOMPOK JUMLAH ANGGOTA KETUA KELOMPOK
I 5 Rendi J
II 5 Rudi S
III 5 Indah H
IV 5 Sri Mulyani
V 5 M Nasir
VI 6 Endra

2. Menentukan Kompetensi Dasar dan Indikator yang akan dipelajari, yaitu KD: Menyajikan informasi tentang perpindahan dan perubahan energy listrik.

3. Membuat RPP.

4. Mempersiapkan instrument penilaian, berupa lembar observasi dan tes evaluasi hasil belajar siswa.

1.2          Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

a. Pelaksanaan Tindakan

Peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan mengacu pada rencana pembelajaran yang telah dibuat (RPP).

b. Observasi

Observasi dilakukan oleh rekan sejawat pada saat proses pembelajaran berlangsung. Obyek observasi adalah guru dan siswa.

1.3          Tahap Refleksi

Secara teknis tahap ini terbagi menjadi 2 sub, yaitu a) tahap pengolahan data, b) tahap analisa data (refleksi).

a)        Tahap pengolahan data

Data yang diperoleh dari hasil evaluasi sebagai berikut:

TABEL 4.3

NILAI EVALUASI HASIL BELAJAR

SISWA KELAS VI SDN CEMARAJAYA

PTK SIKLUS I

KKM = 66
NO NAMA SISWA RATA-RATA NILAI LULUS TIDAK
ULANGAN HARIAN SISWA LULUS
1 ACHMAD RIANDI BAHRI 40
2 INTAN SUSENO 69
3 PINLIAH 40
4 SUNANTO 46
5 CUWANDI 52
6 FITRI KLODIA 44
7 AHMAD MAULANA 35
8 KRISDAYANTI 64
9 ADE SURYANA 77
10 ANITA AGUSTIANI 40
11 ENDRA MAULANA 86
12 EKA MULYANA 69
13 INDAH HANDAYANI 86
14 MUHAMAD MARTA 70
15 MUHAMMAD SAMSUDIN 75
16 MUHAMAD NASIR 85
17 MUHAMMAD ARDIANTO DINATA 80
18 NURJAMAN 67
19 NURLELAH 62
20 RUDI BAHTIAR 46
21 RUDI SANTOSO 87
22 RENDI JULIANTO 90
23 SUMA 63
24 SAIPUL ANWAR 71
25 SANDITA 77
26 YUYUNG DAMAYANTI 35
27 YANA 73
28 ABDUL ROHMAN 53
29 SARJANA 81
30 SRI MULYANI 90
31 WANDI 71
JUMLAH NILAI 2024
RATA-RATA NILAI 65.29
MEDIAN 69
PROSENTASE LULUS 58.06
PROSENTASE  TIDAK LULUS 41.94

b)        Tahap Refleksi

Setelah melakukan konfirmasi data hasil observasi dengan rekan sejawat yang menjadi observer diperoleh kesimpulan bahwa pnerapan metode interaksi belum optimal dilaksanakan. Hal itu terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung ada beberapa siswa yang aktif negative (tampak aktif, tapi tidak memperhatikan penjelasan guru dan kurang disiplin dalam melaksanakan tugas). Selain itu keaktifan siswa masih didominasi oleh beberapa siswa, sedangkan sebagian besar siswa lainnya belum menunjukkan keberaniannya untuk  aktif berinteraksi dan menyampaikan gagasannya kepada guru maupun kepada sesama anggota kelompok.

Meskipun data hasil observasi belum menunjukkan perubahann yang signifikan terhadap keaktifan siswa, namun data hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai yang diperoleh siswa pada PTK siklus I dibandingkan dengan nilai yang mereka peroleh sebelum peaksanaan metode interaktif.

TABEL 4.4

PERBANDINGAN DATA NILAI SISWA

NO KETERANGAN SEBELUM PTK PTK SIKLUS I
1 JUMLAH NILAI 1760 2024
2 RATA-RATA NILAI 56,77 65,29
3 MEDIAN 60 69
4 PROSENTASE LULUS 29,03 58,06
5 PROSENTASE  TIDAK LULUS 70,97 41,94

Data di atas menunjukkan adanya peningkatan nilai hasil belajar siswa pada pelaksanaan PTK Siklus I dibandingkan dengan nilai sebelum pelaksanaan PTK. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada nilai median dan prosentase kelulusan, namun rata-rata nilai siswa belum menunjukkan peningkatan yang tinggi. Hal tersebut mencerminkan adanya perbedaan nilai yang cukup mencolok diantara siswa.

Kondisi ini mendorong peneliti untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode interaktif pada siklus II dengan lebih memperhatikan perbedaan individu siswa yang selanjutnya memotivasi mereka untuk aktif dalam proses pembelajaran.

2. Siklus II

2.1. Tahap Perencanaan

Siklus II dilaksanakan pada tanggal 9 s.d 13 Maret 2010.

Setelah melakukan pengolahan dan analisa data hasil PTK siklus I, langkah selanjutnya adalah membuat scenario pembelajaran, sebagai berikut:

  1. Membagi siswa menjadi 8 kelompok dengan persebaran prestasi  siswa merata pada setiap kelompok, serta pembagian jumlah anggota kelompok sebagai berikut:

Tabel 4.5

Pembagian Kelompok Siklus II

KELOMPOK JUMLAH ANGGOTA KETUA KELOMPOK
I 4 Indah H
II 4 Sri Mulyani
III 4 M Nasir
IV 4 Endra M
V 4 Sarjana
VI 4 M Ardianto D
VII 4 Rudi S
VIII 3 Rendi J
  1. Menentukan Kompetensi Dasar dan Indikator yang akan dipelajari, yaitu KD: Mengidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Membuat RPP.
  3. Mempersiapkan instrument penilaian, berupa lembar observasi dan tes evaluasi hasil belajar siswa.

2.2    Tahap Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

1. Pelaksanaan Tindakan

Peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan mengacu pada rencana pembelajaran yang telah dibuat (RPP).

2. Observasi

Observasi dilakukan oleh rekan sejawat pada saat proses pembelajaran berlangsung. Obyek observasi adalah guru dan siswa.

2.3          Tahap Refleksi

Seperti pada siklus I, refleksi pada siklus II pun secara teknis terbagi menjadi 2 sub, yaitu a) tahap pengolahan data, b) tahap analisa data (refleksi).

a)      Tahap pengolahan data

Data yang diperoleh dari hasil evaluasi sebagai berikut:

TABEL 4.6

NILAI EVALUASI HASIL BELAJAR

SISWA KELAS VI SDN CEMARAJAYA

PTK SIKLUS II

KKM = 66
NO NAMA SISWA RATA-RATA NILAI LULUS TIDAK
ULANGAN HARIAN SISWA LULUS
1 ACHMAD RIANDI BAHRI 42
2 INTAN SUSENO 72
3 PINLIAH 42
4 SUNANTO 48
5 CUWANDI 54
6 FITRI KLODIA 46
7 AHMAD MAULANA 36
8 KRISDAYANTI 67
9 ADE SURYANA 80
10 ANITA AGUSTIANI 42
11 ENDRA MAULANA 90
12 EKA MULYANA 72
13 INDAH HANDAYANI 90
14 MUHAMAD MARTA 73
15 MUHAMMAD SAMSUDIN 78
16 MUHAMAD NASIR 89
17 MUHAMMAD ARDIANTO DINATA 84
18 NURJAMAN 69
19 NURLELAH 65
20 RUDI BAHTIAR 48
21 RUDI SANTOSO 91
22 RENDI JULIANTO 94
23 SUMA 66
24 SAIPUL ANWAR 74
25 SANDITA 80
26 YUYUNG DAMAYANTI 36
27 YANA 76
28 ABDUL ROHMAN 55
29 SARJANA 84
30 SRI MULYANI 94
31 WANDI 74
JUMLAH NILAI 2111
RATA-RATA NILAI 68.10
MEDIAN 72
PROSENTASE LULUS 64.52
PROSENTASE  TIDAK LULUS 35.48

b)        Tahap Refleksi

Setelah melakukan konfirmasi data hasil observasi dengan rekan sejawat yang menjadi observer diperoleh kesimpulan bahwa penerapan metode interaksi sudah menghasilkan adanya perubahan sikap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal itu terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung siswa yang aktif negative mulai berkurang. Siswa mulai terkondisi dan tampak antusias dalam melaksanakan pembelajaran secara interaktif.

Data hasil evaluasi pun menunjukkan adanya peningkatan nilai yang cukup signifikan diperoleh siswa pada PTK siklus II dibandingkan dengan nilai yang mereka peroleh pada pelaksanaan PTK Siklus I.

TABEL 4.7

PERBANDINGAN DATA NILAI SISWA

NO KETERANGAN PTK SIKLUS I PTK SIKLUS II
JUMLAH NILAI 2024 2111
RATA-RATA NILAI 65,29 68,10
MEDIAN 69 72
PROSENTASE LULUS 58,06 64,52
PROSENTASE  TIDAK LULUS 41,94 35,48

Data di atas menunjukkan adanya peningkatan nilai hasil belajar siswa pada pelaksanaan PTK Siklus II dibandingkan dengan nilai pada pelaksanaan PTK siklus I. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada nilai median, prosentase kelulusan. Meskipun peningkatan rata-rata nilai siswa tidak terlalu tinggi, hal tersebut tetap mengindikasikan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa pada pelaksanaan PTK siklus II.

C. Pembahasan Hasil Penelitian Secara Keseluruhan

Perbandingan pencapaian hasil belajar siswa sebelum pelaksanaan PTK dengan  pencapaian setelah PTK siklus I dan siklus II secara ringkas tersaji pada table berikut:

TABEL 4.8

PERBANDINGAN DATA NILAI SISWA

NO KETERANGAN SEBELUM PTK PTK SIKLUS I PTK SIKLUS II
JUMLAH NILAI 1760 2024 2111
RATA-RATA NILAI 56,77 65,29 68,10
MEDIAN 60 69 72
PROSENTASE LULUS 29,03 58,06 64,52
PROSENTASE  TIDAK LULUS 70,97 41,94 35,48

Dari table tersebut tampak adanya peningkatan secara berkala nilai hasil belajar siswa.

Jumlah nilai siswa pada PTK siklus I mengalami kenaikan sebesar 264 dari jumlah nilai sebelum PTK, yaitu dari 1.760 menjadi 2.024 dan pada siklus II mengalami kenaikan sebesar 87 dari jumlah nilai PTK siklus I, yaitu dari 2.024 menjadi 2.111. Peningkatan jumlah nilai pada siklus II tidak terlalu signifikan, hal ini terjadi karena pada siklus I jumlah ilai siswa telah mengalami peningkatan yang cukup tinggi.

Rata-rata nilai siswa pada PTK siklus I mengalami kenaikan sebesar 8,52 dari rata-rata nilai sebelum PTK, yaitu dari 56,77 menjadi 65,29 dan pada siklus II mengalami kenaikan sebesar 2,81 dari rata-rata nilai PTK siklus I, yaitu dari 65,29 menjadi 68,10. Peningkatan rata-rata nilai pada siklus II lebih rendah dari pada peningkatan rata-rata nilai siswa pada siklus I, hal ini tentunya dipengaruhi oleh peningkatan jumlah nilai siswa.

Demikian pula pada pencapaian median dan prosentase kelulusan siswa pada pelaksanaan PTK siklus I lebih besar dari pada peningkatan median dan prosentase kelulusan pada pelaksanaan PTK siklus II.

Oleh: wr.agus | 30 April 2010

Trailer Film Kiamat 2010

Jika hari kiamat datang, mungkinkah ada orang yang sempat menyelamatkan diri dan menyaksikan bencana dahsyat yang terjadi, seperti terkisah pada film ini…???

Oleh: wr.agus | 29 April 2010

PTK (“INTERAKTIF” 3)

BAB II

KERANGKA TEORI

A. Belajar dan Pembelajaran

1. Belajar

a. Pengertian Belajar

Morgan (Ngalim Purwanto, 1998:84) mengemukakan bahwa

‘belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.’

Sedangkan Dimyati Mahmud (Sri Rukmini et. All, 1997:59) menyatakan bahwa

‘Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung dan terjadi dalam diri seseorang karena pengalaman.’

Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada seseorang, baik berupa tingkah laku yang dapat  diamati secara langsung (misal: gerakan tubuh) maupun tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung (karakter/sifat) dan perubahan tersebut terjadi karena adanya proses latihan (pengalaman) yang dialami olehnya.

b. Bentuk-Bentuk Belajar

Syamsu Yusuf et. all. (1993:12) mengemukakan bentuk-bentuk belajar sebagai berikut:

1)      Belajar keterampilan intelektual.

2)      Belajar kognitif

3)      Belajar verbal

4)      Belajar keterampilan motorik

5)      Belajar sikap

c. Gaya Belajar

“Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi” Bobbi De porter et. all (2005:111).

Gaya belajar seseorang belum tentu sama dengan orang lain. Gaya belajar merupakan kunci untuk mengembangkan potensi seseorang.

Rita Dunn (Bobbi De porter et. all, 2005:110) menemukan banyak variable yang mempengaruhi  cara belajar orang. Variable tersebut mencakup faktor-faktor fisik, emosional, sosiologis dan lingkungan.

Sementara Bobbi De porter et. all (2005:110) membagi gaya belajar berdasarkan modalitas seseorang menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Gaya belajar visual (belajar dengan cara melihat)
  2. Gaya belajar Auditorial (belajar dengan cara mendengar)
  3. Gaya belajar kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.

2. Pembelajaran

a. Pengertian Pembelajaran

“Pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” (M Surya, 2003:11).

Keseluruhan yang dimaksud, meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini sejalan dengan taksonomi Bloom (E. Mulyana, 2001:110) yang mengelompokkan tujuan pembelajaran sebagai berikut:

  1. Domain Kognitif, meliputi: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
  2. Domain Afektif, meliputi: menerima, menanggapi, menghargai, mengatur dan mengkaraktisasi.
  3. Domain psikomotorik, meliputi: persepsi, mekanisme, respon terbimbing, kemahiran, adaptasi, dan orginalisasi.

b. Proses Pembelajaran

“Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan interaksi dinamis antara siswa dengan guru dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan” (Syamsu Yusuf et.all, 1993:34)

B. PAKEM

1. Pengertian PAKEM

“PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. (akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/)

Dari kepanjangannya PAKEM Suwarto (war2nyahoo.blogspot.com/2010/02) mengemukakan empat ciri-ciri Pembelajaran Aktif, Kreatif , Efektif, Menyenangkan.

a. Aktif.

Ciri aktif dalam PAKEM berarti dalam pembelajaran memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif dengan lingkungan, memanipulasi objek-objek yang ada di dalamnya serta mengamati pengaruh dari manipulasi yang sudah dilakukan. Guru terlibat secara aktif dalam merancang, melaksanakan maupun mengevaluasi proses pembelajarannya. Guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang mendukung (kondusif) sehingga siswa aktif bertanya.

b. Kreatif

Kreatif merupakan ciri ke-2 dari PAKEM yang artinya pembelajaran yang membangun kreativitas siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan, bahan ajar serta sesama siswa lainnya terutama dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajarannya.Gurupun dituntut untuk kreatif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Guru diharapkan mampu menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.

c. Efektif

Ciri ketiga pembelajaran PAKEM adalah efektif . Maksudnya pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

d. Menyenangkan

Menyenangkan merupakan ciri ke empat dari PAKEM dengan maksud pembelajaran dirancang untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Menyenangkan berarti tidak membelenggu, sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada pembelajaran, dengan demikian waktu untuk mencurahkan perhatian (time of task) siswa menjadi tinggi. Dengan demikian diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya.

Lebih lanjut, Ahmad Sudrajat (wordpress.com/2008/01/22) memberikan garis besar gambaran PAKEM adalah sebagai berikut:

a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

b. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa,

Gc. uru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’

d. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya

2. Rambu-rambu PAKEM

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM, yaitu :

a. Memahami sifat yang dimiliki anak,

b. Mengenal anak secara perorangan,

c. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar,

d. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah,

e. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik,

f. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar,

g. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar,

h. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental

(Agus Wuryanto:salam02.wordpress.com/2009/02/11)

3. Pelaksanaan PAKEM

Kemampuan Guru yang harus dikuasai dalam pelaksanaan Pembelajaran PAKEM, yaitu:

a. Guru menggunakan alat bantu dan sumber belajar yang beragam,  Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misal: Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri Gambar, Studi kasus, Nara sumber, Lingkungan.

b. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan. Siswa: Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara. Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri,Menarik kesimpulan, Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri, Menulis laporan/hasil karya lain dengan kata-kata sendiri

c. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan. Melalui:Diskusi, Lebih banyak pertanyaan terbuka, Hasil karya yang merupakan pemikiran anak sendiri

d. Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa. Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu. Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut. Tugas perbaikan atau pengayaan diberikan

e. Guru mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman siswa sehari-hari. Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri. Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari. Menilai pembelajaran dan kemajuan belajar siswa secara terus menerus.

f. Guru memantau kerja siswa

g. Guru memberikan umpan balik

(Agus Wuryanto:salam02.wordpress.com/2009/02/22)

C. Metode Interaktif

1. Pengertian Interaktif

Interaktif didefinisikan sebagai “kemampuan sistem/program yang bisa menanyakan sesuatu pada pengguna (mengadakan tanya jawab), kemudian mengambil tindakan berdasarkan respon tersebut.” (http://www.total.or.id/info.php?kk=interactive).

Kata interaktif merupakan kata sifat yang berasal dari kata dasar interasi. Interaksi didefinisiakan oleh Pius A Partanto et.all (1994:125), sebagai “pengaruh timbal balik atau saling mempengaruhi satu sama lain.”

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode interaktif adalah metode pembelajaran yang mengedepankan komunikasi dua arah (two ways system) antara siswa dengan guru, sehingga semua komponen yang ada (siswa dan guru) terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

2. Ruang Lingkup Metode Interaktif

Ihat Hatimah (2000:61) mengelompokkan jenis metode dua arah (interaktif) sebagai berikut:

a. Metode Tanya Jawab

b. Metode Brainstorming

c. Metode Sambutan Melingkar

d. Metode Penugasan

e. Metode Latihan

Metode Interaktif ini sejalan dengan Model Quantum Teaching. Bobbi De Porter et.all. (2004:5) merumuskan Model Quantum Teaching adalah “orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar”.

Dijelaskan pula bahwa model “Quantum Teaching” didasarkan pada azas utama “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka” serta bertumpu pada 5 (lima) prinsip interaktif, yaitu:

  1. Segalanya Berbicara.
  2. Segalanya Bertujuan.
  3. Pengalaman Sebelum Pemberian Nama.
  4. Akui Setiap Usaha.
  5. Jika Layak Dipelajari, Maka Layak Pula Dirayakan.

(Bobbi De Porter et.all, 2004:7)



Oleh: wr.agus | 29 April 2010

PTK (“INTERAKTIF” 2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Guru merupakan “agent of change” bagi peserta didik (siswa). Status ini membawa konsekuensi bahwa seorang guru dituntut untuk mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik baik potensi intelegensi, keterampilan, sosial maupun moral dan kepribadian. Dengan demikian tugas guru tidak hanya sekedar mengajar (mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik) tetapi juga mendidik (memberikan bimbingan moral dan kepribadian  kepada peserta didik). Untuk mampu melaksanakan tugas tersebut guru dituntut untuk menguasai kompetensi pendidik yang meliputi kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru diharapkan mampu mengembangkan pola pembelajaran variatif, melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan berbagai metode yang sesuai dengan bahan ajar, sehingga peserta didik termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dengan antusias dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) yang saat ini sedang “booming” di lingkungan pendidikan, khususnya di Kabupaten Karawang. Model PAKEM menuntut perubahan posisi lama guru dalam pembelajaran, yang semula pembelajaran berpusat pada guru (teacher center) berubah menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center) sehingga guru harus lebih memotivasi dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Sebagai bentuk pelaksanaan model PAKEM tersebut, proses pembelajaran yang dilaksanakan dikelas VI SDN Cemarajaya II khususnya pada mata pelajaran IPA, menggunakan metode “interaktif”. Penerapan metode interaktif ini memberikan peluang kepada peserta didik untuk berani bertanya kepada guru dan menyampaikan gagasannya, baik melalui forum tanya jawab yang sengaja disediakan oleh guru maupun secara spontanitas oleh siswa dalam pembelajaran.

Penerapan metode interaktif juga sejalan dengan PP No. 19 tahun 2005 Bab IV Pasal 19 ayat 1 (war2nyahoo.blogspot.com/2010/02) yang menyatakan bahwa ‘Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpatisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, keatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.’

Meskipun pelaksanaan pembelajaran di kelas telah menggunakan metode interaktif, namun pencapaian hasil belajar siswa ternyata belum maksimal. Hal tersebut ditandai dengan masih rendahnya nilai yang dicapai siswa dalam pembelajaran. Berdasarkan rata-rata nilai ulangan IPA yang telah dilaksanakan, diperoleh data bahwa dari keseluruhan siswa kelas VI yang berjumlah 31 orang, 14 siswa (45%) masih mendapat nilai di bawah 6,  9 siswa (29%) mendapat nilai antara 6 s.d. 7 dan hanya 8 siswa (26%) yang mendapat nilai di atas 7.

Kondisi ini memotivasi guru untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan mengoptimalkan penerapan metode intaraktif dalam proses pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran IPA di kelas VI SDN Cemarajaya II, Cibuaya Kabupaten Karawang.

B. Identifikasi, Analisis dan Rumusan Masalah

1. Identifikasi masalah

Beberapa permasalahan yang berhasil diidentifikasi selama proses pembelajaran yaitu:

  1. Beberapa siswa membuat suasana gaduh saat proses pembelajaran.
  2. Ada beberapa siswa yang berucap spontan (menyeletuk) sehingga mengganggu konsentrasi siswa lain.
  3. Masih ada siswa yang belum bisa menjawab dengan benar pertanyaan yang diberikan oleh guru meskipun sudah membaca dan memperhatikan penjelasan guru.
  4. Guru terlalu banyak membiarkan suasana kelas menjadi gaduh.

2. Analisis Masalah

Dari beberapa permasalahan yang berhasil diidentifikasi, tindakan akan lebih difokuskan pada 1 masalah, yaitu “Masih ada siswa yang belum bisa menjawab dengan benar pertanyaan yang diberikan oleh guru meskipun sudah membaca dan memperhatikan penjelasan guru.”

Ada bebarapa kemungkinan yang menyebabkan terjadinya hal tersebut, diantaranya:

  1. Guru terlalu cepat dalam menjelaskan materi pelajaran.
  2. Siswa kurang konsentrasi baik pada saat membaca maupun pada saat menerima penjelasan guru.
  3. Pandangan guru lebih banyak terfokus pada siswa yang biasa aktif (kurang meratakan pandangan kepada seluruh siswa.)
  4. Kemampuan berfikir siswa rendah.
  5. Siswa kurang menyukai metode interaktif yang diterapkan oleh guru.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil analisa masalah, peneliti merumuskan 2 (dua masalah) yang akan difokuskan pada penelitian, yaitu:

  1. Bagaimana pengaruh pengoptimalan metode interaktif terhadap kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran IPA?
  2. Sejauhmana antusiasme siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPA?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini betujuan:

  1. Meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran IPA.
  2. Mengetahui tingkat antusiasme siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPA.

D. Manfaat Penelitian

  1. Bagi siswa: a) lebih konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran; b) membiasakan siswa untuk berani bertanya kepada guru; c) meningkatkan keberanian siswa untuk menyampaikan gagasannya.
  2. Bagi peneliti: a) lebih berperan aktif dalam memotivasi siswa untuk bertanya dan menyampaikan gagasannya; b) lebih mengenal karakter siswa; c) mampu mengembangkan berbagai tehnik untuk meningkatkan keaktifan siswa.
  3. Bagi rekan sejawat: a) dapat dijadikan sebagai motivasi untuk mengembangkan metode pembelajaran; b) penerapan metode interaktif dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Oleh: wr.agus | 29 April 2010

PTK (“INTERAKTIF” 1)

PENGOPTIMALAN PENERAPAN METODE INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP MATERI PELAJARAN IPA

(Penelitian Tindakan Kelas Terhadap Siswa Kelas VI SDN Cemarajaya II Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Tahun Pelajaran 2009/2010)

Disusun Sebagai Tindak Lanjut Kegiatan KKG BERMUTU
Gugus II Kecamatan Cibuaya

Oleh:

AGUS WURYANTO, S.Pd.

NIP: 19790709 200212 1 006
NUPTK: 4041757658200023

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA
UPTD TK,SD KECAMATAN CIBUAYA
SDN CEMARAJAYA II
2010

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.